Menikmati Long Weekend di Tengah Efisiensi: Sebuah Refleksi Psikologis dan Ekonomi
Menikmati Long Weekend di Tengah Efisiensi: Sebuah Refleksi Psikologis dan Ekonomi
Perencana Ahli Madya, Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau
“The time to relax is when you don’t have time for it.”
Kalimat Sidney J. Harris itu terasa menampar di tengah Mei 2026 ini. Kalender nasional menjanjikan long weekend yang berlimpah, warisan SKB 3 Menteri yang menetapkan 27 hari libur nasional dan cuti bersama sepanjang tahun ini. Namun di saat yang sama, rupiah bergerak di kisaran Rp17.500 per dolar AS, IHSG terpangkas sekitar 19,5 persen sepanjang Januari–April 2026, dan efisiensi belanja pemerintah terus beroperasi diam-diam di balik layar. Pertanyaannya bukan lagi sekadar mau ke mana saat long weekend, melainkan: dengan kondisi seperti ini, bagaimana kita bisa menikmatinya?
5,61 Persen: Antara Bangga dan Bertanya
Pada 5 Mei 2026, BPS merilis kabar yang menggembirakan: pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 mencapai 5,61 persen (year-on-year), tertinggi dalam 13 tahun terakhir untuk periode kuartal pertama, melampaui capaian 4,87 persen di periode yang sama tahun lalu (BPS, 2026). Pemerintah pun menyambutnya dengan nada optimistis. Angka ini memang layak diapresiasi.
Namun, sebagai perencana yang terbiasa membaca data lebih dari sekadar lapisan permukaan, ada beberapa hal yang perlu kita cermati bersama. Pertumbuhan 5,61 persen itu sebagian besar ditopang oleh faktor yang bersifat siklus dan sementara: momentum Ramadan dan Idul Fitri 1447 H, pencairan THR dan gaji ke-14 ASN, serta akselerasi belanja pemerintah di awal tahun (frontloading). Realisasi belanja negara mencapai Rp815 triliun pada Triwulan I-2026, dengan defisit APBN sudah menyentuh Rp240,1 triliun atau 34,8 persen dari target defisit tahunan hanya dalam tiga bulan pertama (Kemenkeu, 2026). Ini menunjukkan bahwa ruang fiskal untuk sisa tahun berjalan menjadi lebih sempit.
Yang lebih menarik untuk dicermati adalah ketidakselarasan antara angka PDB dan kepercayaan pasar. Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menilai pertumbuhan 5,61 persen “belum cukup kuat memicu kepercayaan investor”. Hal ini tecermin dari pelemahan rupiah yang justru terjadi bersamaan dengan rilis data pertumbuhan yang positif, sebuah anomali yang jarang terjadi dalam kondisi ekonomi yang benar-benar sehat (Kompas.com, 7 Mei 2026). Para ekonom dari LPEM FEB UI bahkan mengestimasi bahwa angka pertumbuhan riil, setelah memperhitungkan inkonsistensi data produksi internal BPS, kemungkinan berada di kisaran 4,4–5,2 persen, lebih rendah dari angka yang dirilis (Ikhsan & Riefky, 2026).
Efisiensi yang Masih Terasa
Kebijakan efisiensi anggaran yang dimulai dengan Inpres Nomor 1 Tahun 2025 tidak berakhir di penghujung tahun. Memasuki 2026, UU APBN TA 2026 memformalkan pemangkasan pada 15 pos belanja kementerian/lembaga, mulai dari perjalanan dinas hingga proyek infrastruktur (MUC Consulting, 2026). Efisiensi anggaran yang ditetapkan pemerintah berimplikasi nyata pada pola pelaksanaan program. Sejumlah kegiatan dialihkan ke format daring, sebagian ditunda, dan alokasi dana pada berbagai pos mengalami penyesuaian signifikan.
Dampaknya terasa pula di ekosistem sekitar kita. Vendor katering, penyedia jasa sewa kendaraan, hingga UMKM yang biasanya ramai saat ada kegiatan dinas, mereka semua merasakan multiplier effect dari pengetatan fiskal. Pelemahan rupiah yang melewati Rp17.500 per dolar AS pada pertengahan Mei 2026 memperparah tekanan ini melalui inflasi impor yang mendorong harga-harga kebutuhan sehari-hari (KompasTV, 12 Mei 2026). Dalam konteks inilah long weekend hadir, bukan sebagai liburan yang datang di saat segalanya baik-baik saja, melainkan sebagai jeda yang ditawarkan di tengah tekanan yang nyata.
Paradoks Libur: Banyak Tanggal Merah, Sempit Ruang Gerak
Inilah yang saya sebut sebagai paradoks long weekend 2026. Negara hadir dengan kalender yang murah hati, tetapi kondisi ekonomi menyempitkan ruang untuk menikmatinya secara optimal. Bagi ASN, yang pendapatannya relatif stabil namun tekanan penghematan makin terasa di setiap lini, dilema ini tidak hanya bersifat finansial, ia juga bersifat psikologis.

Ilmu psikologi mengenal konsep hedonic adaptation atau adaptasi hedonik, yakni kecenderungan manusia untuk kembali ke titik kebahagiaan dasar setelah mengalami perubahan kondisi, baik positif maupun negatif. Brickman & Campbell (1971) menyebutnya hedonic treadmill: kita berlari di tempat, merasa perlu terus meningkatkan standar pengalaman untuk merasakan kebahagiaan yang sama. Dalam konteks ini, ASN maupun masyarakat pada umumnya yang terbiasa mengaitkan long weekend dengan perjalanan jauh atau pola konsumsi tertentu dapat mengalami kekecewaan ketika kondisi ekonomi tidak lagi mendukung standar tersebut. Adaptasi hedonik mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak harus bergantung pada besarnya pengeluaran, melainkan pada kualitas kehadiran dan pemaknaan atas waktu yang tersedia
Tiga Cara Mengafirmasi Diri
Lalu, secara psikologis, bagaimana kita bisa tetap hadir dan menikmati long weekend di tengah situasi ini? Ada tiga kerangka yang saya kira relevan untuk kita internalisasi.
Pertama, reframing kognitif (Martin Seligman, 1990). Cara kita menarasikan sebuah situasi kepada diri sendiri menentukan dampak emosionalnya. Long weekend yang diisi sederhana, seperti memasak bersama keluarga, berjalan kaki di taman kota, membaca buku yang sudah lama tertunda, bukanlah sebuah ‘liburan yang gagal’. Ia adalah bentuk pemulihan yang bermartabat. Seorang ASN yang realistis dengan kondisi ekonomi dan memilih menikmati jeda secara sederhana justru sedang mempraktikkan kecerdasan adaptif, bukan kekalahan.
Kedua, self-compassion (Kristin Neff, 2003). Konsep ini mengajak kita memperlakukan diri sendiri sebagaimana kita memperlakukan sahabat yang sedang kesulitan: dengan empati, bukan kritik. Merasa tidak mampu berlibur ke destinasi impian adalah perasaan yang manusiawi dan sah. Namun membiarkan rasa bersalah itu mendominasi hari libur hanya akan menambah beban tanpa mengubah satu pun variabel ekonomi yang ada di luar kendali kita. Berdamailah dengan situasi; itu bukan kelemahan, itu kebijaksanaan.
Ketiga, meminjam sedikit dari filsafat Hellenistik, khususnya Epiktetus yang mengajarkan dikotomi kendali. Pisahkan apa yang ada dalam kuasamu dari yang tidak. Kita tidak bisa mengendalikan nilai tukar rupiah, kebijakan efisiensi pusat, atau inkonsistensi data makroekonomi. Namun kita sepenuhnya berdaulat atas bagaimana kita mengisi waktu, dengan siapa kita benar-benar hadir, dan makna apa yang kita ciptakan dari setiap jeda yang diberikan. Ini bukan pasrah pada ketidakadilan, ini adalah strategi psikologis yang telah teruji ribuan tahun.
Jangan Tunda Kehidupan
Pertumbuhan ekonomi 5,61 persen adalah capaian yang patut disyukuri sekaligus dibaca dengan jernih. Angka ini menunjukkan resiliensi, namun juga menyimpan kerentanan: rupiah yang tertekan, pasar modal yang terkoreksi, dan ruang fiskal yang menyempit. Dalam situasi demikian, kita tidak perlu berpura‑pura bahwa segalanya baik‑baik saja, tetapi juga tidak seharusnya membiarkan kerumitan makroekonomi mencuri ketenangan dan kegembiraan yang masih bisa direngkuh.
Long weekend yang segera tiba adalah undangan untuk berhenti sejenak, bernapas, dan hadir sepenuhnya dalam hidup. Justru di tengah tekanan ekonomi, kemampuan menikmati momen kecil tanpa rasa bersalah, tanpa standar berlebihan, adalah bentuk ketahanan psikologis yang bernilai. Pada akhirnya, kebahagiaan yang paling tahan banting bukanlah yang bergantung pada kondisi eksternal, melainkan yang tumbuh dari dalam.
*Penulis adalah Perencana Ahli Madya di BKD Provinsi Riau dengan latar belakang Magister Ekonomi. Artikel ini merupakan pandangan pribadi dan tidak mewakili kebijakan resmi instansi.
Referensi
Adijaya, P. R. (11 Mei 2026). Menilik Angka Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026. The Indonesian Institute, Center for Public Policy Research. https://www.theindonesianinstitute.com/menilik-angka-pertumbuhan-ekonomi-indonesia-2026/
BPS – Badan Pusat Statistik. (5 Mei 2026). Ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 Tumbuh 5,61 Persen (Y-on-Y). Press Release No. 2575. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/05/2575/ekonomi-indonesia-triwulan-i-2026-tumbuh-5-61-persen–y-on-y-.html
Brickman, P., & Campbell, D. T. (1971). Hedonic relativism and planning the good society. Dalam M. H. Apley (Ed.), Adaptation-level theory (hlm. 287–305). Academic Press.
Epiktetos. (sekitar 108 M). Enchiridion (G. Long, Penerjemah, 1888). Little, Brown and Company.
Huda, N. (7 Mei 2026). Dikutip dalam Kompas.com: Rupiah Melemah di Tengah Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen, Ada Apa? Direktur Ekonomi Digital, Center of Economic and Law Studies (Celios). https://money.kompas.com/read/2026/05/07/171833026/rupiah-melemah-di-tengah-pertumbuhan-ekonomi-561-persen-ada-apa
Ikhsan, M., & Riefky, T. (11 Mei 2026). Pertumbuhan PDB Indonesia Triwulan I-2026: Di Balik Angka 5,61%. LPEM FEB Universitas Indonesia / Suar.id. https://www.suar.id/pertumbuhan-pdb-indonesia-triwulan-i-2026-di-balik-angka-5-61-2/
Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (5 Mei 2026). Realisasi APBN Triwulan I-2026. https://www.kemenkeu.go.id
MUC Consulting. (9 Januari 2026). Efisiensi APBN 2026: 15 Pos Belanja K/L Dipangkas. https://muc.co.id/en/article/2026-state-budget-efficiency-15-ministryagency-expenditure-items-to-be-cut
Neff, K. D. (2003). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2(2), 85–101.
Seligman, M. E. P. (1990). Learned Optimism: How to Change Your Mind and Your Life. Knopf.