BKD Provinsi Riau

Emosi Yang Dikelola

575

Oleh: Embung Megasari Zam

Widyaiswara di Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Riau

Bila kita dengar istilah emosi, pada umumnya orang akan menganggap telah terjadi hal yang negatif atau hal yang buruk padahal dari beberapa defenisi bukanlah begitu adanya, dimana kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosinya, bila berhadapan dengan orang lain disekitarnya. Dalam hal ini, emosi mengacu pada perasaan terhadap informasi akan suatu hubungan sebab dan akibat.

Dalam diri kita ada dua kecerdasan yang umum kita ketahui, yang pertama kecerdasan intelektual yang biasa disebut iq dan kecerdasan emosi (eq). Kecerdasan emosi lebih penting dibanding dengan kecerdasan intelektual karena lebih banyak memberi kontribusi terhadap kesuksesan seseorang.Sebut saja pakar kecerdasan emosional anthony dio martin, mengatakan bahwa kecerdasan emosi berperan 80 % dalam meraih kesuksesan.

Sering kita jumpai orang yang pintar dan tinggi ilmu pendidikannya namun tidak pandai mengontrol emosi.Mudah marah untuk hal tidak penting atau terlalu bersedih terhadap hal yang sepele adalah bukti bahwa seseorang itu belum mampu mengontrol emosinya.Kecerdasan emosi juga kadang dianggap sebagai hal pribadi dan tidak ada hubungannya dengan orang lain, bahkan dengan pekerjaan kita sekalipun. Tapi fakta menunjukkan bahwa seseorang itu berhasil dalam pekerjaan adalah ditentukan oleh bagaimana ia mengatur emosinya.

Menurut howard gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari emosi diri sendiri, mampu mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.

Dari pernyataan di atas dapatlah kita katakan bahwa emosi bukan hanya dikaitkan dengan kemarahan, tetapi juga dapat mengatur emosi saat kita dalam keadaan gembirapun sangat penting.Jangan sampai kita tertawa berlebihan dikarnakan senangnya, contoh saja baru mendapat hadiah yang tidak disangka-sangka atau baru naik pangkat, namundisisi lain dalam kondisi tertekan atau sedang bersedih, dapat dengan mudah mengakhiri hidupnya. Inilah mengapa mengelola emosi itu penting agar kita menjadi pribadi yang bahagia tanpa menyakiti orang lain.

EQ tidak berbatas pada usia kita, karena kita selalu punya kesempatan untuk meningkatkan level kecerdasan emosi kita. Bahkan, semakin bertambahnyausia, potensi untuk lebih cerdas secara emosional akan lebih besar karena sejatinya orang yang usianya sudah lanjut memiliki banyak pengalaman dibanding orang yang usianya masih muda. Hanya saja bagaimana kita melihat pengalaman hidup yang sudah kita jalani sebagai pembelajaran untuk lebih mencerdaskan emosi kita.

Namun tak kalah pentingnya ada orang yang sudah berusia tua tapi tingkat kecerdasannya masih seperti anak belasan tahun dan itu sering kita jumpai dalam kehidupan sehari – hari seringkita jumpai orang dewasa yang berperilaku kekanak – kanakan (emosi yang belum matang) contohnya ada pembagian makan yang porsinya dibagikan dengan bagian yang sama, namun masih banyak yang maunya lebih dari yang lain, contoh sederhana lainnya bila seseorang diskusi atau mengeluarkan pendapat biasanya mau menang sendiri, kaku dalam berpendapat dan tidak pernah mau terkalahkan, pernah juga dijumpai orang yang sering menolok-olokkan teman.

Yang lebih tragisnya lagi bila kita lihat akhir – akhir ini di media massa ada sekelompok oknum dalam tanda petik bila berdiskusi selalu adu jotos, bahkan membalikkan meja, membanting pintu, memblokir pergaulan, merasa benar mengeluarkan kata – kata kotor, tak kalah sebanding dengan prilaku anak – anak berkelahi, kejadian ini jelas disebabkan kerena tidak menggunakan kecerdasan emosi dengan baik.

Sejalan dengan itu, ternyata kecerdasan emosi bukan hanya penting untuk diri kita sendiri tapi juga untuk orang lain. Bagaimana kita bergaul dengan orang disekitar kita?Bagaimana kita menghadapi atasan?Bagaimana kita memperlakukan bawahan?Bagaimana menghargai pendapat teman sejawat atau orang lain. Dan bagaimana sikap kita kepada teman sejawat.Ada beberapa langkah yang bisa dijadikan tuntunan untuk lebih cerdas dalam mengatur emosi terhadap semua hal tersebut.

EMOSI DALAM KESEHARIAN DAN LINGKUP PEKERJAAN

Kecerdasan emosi tidak diukur dari banyaknya umur

Waktu kecil, kita mungkin pernah melihat atau mengalami sendiri masa dimana ketika kita menabrak sebuah benda dan terjatuh, orang tua bukan menasehati tetapi malah menyalahkan benda tersebut. Perlakuan semacam ini disadari atau tidak akan berdampak dikehidupan dewasa kita. Ketika kita melakukan kesalahan sesekali atau bahkan berulang ulang selalu menyalahkan orang lain dan bukan mengintrospeksi diri sendiri.

Mungkin kita juga pernah melihat seseorang yang sudah tinggi jabatannya tapi tidak dihormati oleh bawahannya.Hal tersebut bisa jadi karena atasan tersebut tidak bisa mengontrol emosinya, bawahan dianggap sebagai orang yang mudah diperintah secara otoriter dan cenderung menyalahkan bawahannya tanpa melihat akar permasalahan dan mengambil keputusan terhadap apa yang terjadi. Banyak dijumpai dilapangan bersama teman sejawat seakan akan kita sebagai pendekar yang tak terkalahkan, menyatakan suatu kesuksesan itu adalah karena keterlibatan dirinya.

Usiafisik, pendidikan dan jabatan dikantor tidak selalu menjamin orang tersebut adalah orang yang matang dan dewasa secara emosional. Setiap orang tentu menginginkan pekerjaan yang baik, jabatan dan gaji yang tinggi.Pertanyaannya, apakah kita sudah memiliki usia emosi yang cukup untuk menerima semua tanggung jawab yang harus kita pikul? Banyak kita jumpai seseorang memburu hak tetapi tidak diiringi dengan tanggung jawab yang benar.

Dibalik gaji yang besar tentu ada tanggung jawab yang besar, begitupula dengan jabatan yang tinggi akan seiring dengan datang tanggung jawab yang besar. Kalau kita masih suka main-main, suka menyalahkan orang lain dan tidak mau mengambil tanggung jawab, malas berusaha, bagaimana kita bisa mendapat kehidupan yang lebih baik? Jika kita adalah orang yang memiliki kedewasaan emosional maka tanggung jawab akan datang dengan sendirinya dan seringkali disertai dengan penghargaan dan fasilitas yang besar pula. Jangan dulu kejar penghargaan dan fasilitasnya tapi kejarlah dulu kedewasaan emosional

Orang yang cerdas emosinya tetap boleh marah

Marah itu sesuatu yang kadang menipu, baik diri sendiri atau orang lain. Banyak orang sakit hati karena menjadi korban kemarahan, tapi di sisi lain, kita sering dihadapkan pada kondisi yang membuat kita marah.Orang yang semena-mena mengumbar fitnah, membuat kita marah.Anak yang sudah diperingatkan tentang kesalahannya tapi tetap diulang, membuat kita marah.Belum lagi kemarahan itu sendiri adalah salah satu emosi yang paling sulit dikendalikan, paling besar energinya tapi mudah ditumpahkan.

Banyakyang menganggap bahwa orang dewasa yang cerdas emosinya adalah orang yang tidak pernah marah.Hal ini jelas keliru, karena konsep EQ itu membolehkan seseorang untuk marah, hanya saja ada perbedaan besar antara orang yang marah tanpa memiliki kecerdasan emosi dengan orang yang memiliki EQ yang tinggi, yangdapat melihat waktu dan tempat, kapan dan dimana dia bisa mengeksplor kemarahannya.

Marah dengan EQ yang rendah dikeluarkan dengan emosi serta energi yang tidak terkontrol, bahkan kadangkala tidak disadari oleh orang itu sendiri.Orang yang marah dengan tingkah seperti ini disebut juga membabi buta, kemarahan itu tidak akan berhenti ibarat air yang tumpah, tidak akan berhenti sampai airnya habis.

Sedangkan orang yang marah dengan eq yang tinggi adalah sebuah kemarahan yang terkontrol dan cenderung seperti direncanakan.Orang tersebut akan lebih dulu mengumpulkan bukti kesalahan orang yang telah membuatnya marah dan mengatur waktu kapan dianya akan dikeluarkan sehingga tepat sasaran dan pesan kemarahan itupun tersampaikan.

Ada beberapa tips yang bisa kita lakukan jika sedang dihadapkan dengan situasi yang melanggar prinsip-prinsip yang kita pegang yakni ;

  1. Ambil waktu sejenak

Jika ingin marah jangan langsung ditumpahkan, ambil waktu sejenak.Tarik nafas dalam-dalam lalu buang.Bila perlu menghindar dari orang tersebut /sasaran kemarahan atau situasi yang membuat kita marah.Segera netralkan perasaan marah dan aktifkan kembali nalar kita.Hela napas panjang dan diiringi dengan zikirullah biasanya akan membuat kita lebih mudah meredam emosi kemarahan.

  1. Tentukan isi pesan

Segera rencanakan isi pesan kemarahan anda.Pastikan isi pesan sesuai dengan apa yang sedang terjadi, misalnya karyawan kita lupa mengkonfirmasi rapat dengan klien sehingga rapat yang semestinya dilaksanakan hari itu batal. Hal ini merupakan kelalaian dan ketidakdisiplinan karyawan.Marahlah hanya pada masalah itu jangan melebar ke hal yang bukan menjadi inti masalah.Seperti pakaian yang sederhana dan tidak mengikuti perkembangan fashion atau marah karena penampilannya yang kurang rapi.Ini tentu bukan lagi soal masalah kerja tapi penampilan.Jika hal ini terjadi karyawan bisa bingung dan bisa jadi balik menyalahkan diri kita.Sehingga terjadilah perdebatan yang sebetulnya tidak perlu terjadi akibat dari kemarahan yang dikemukakan secara membabi buta.

  1. Fokus pada pesan

Jika yang terjadi adalah sebaliknya yaitu karyawan kita yang memperluas masalah, kita bisa mengingatkannya.Selalu fokus pada permasalahan dan pesan yang ingin disampaikan.Kedua belah pihak harus sama-sama saling mengingatkan jika salah satu mulai lari dari inti masalah.

  1. Ingat harga diri

Semarah-marahnya kita pada orang lain usahakan jangan sampai keluar kata makian yang menyinggung harga diri. Baik harga diri kita maupun orang yang sedang kita marahi.Kenapa?Karena orang yang memaki orang lain adalah sama buruknya. Jika kita memaki orang lain dengan menggunakan nama-nama binatang, itu sebenarnya mencerminkan betapa buruknya kepribadian kita. Hal ini akan membawa rasa sakit yang berkepanjangan tidak ada satu orangpun yang mau disebut hewan oleh orang lain. Marah yang elegan itu adalah marah yang tidak menyinggung harga diri orang lain.

  1. Konsekuensi

Semua yang kita lakukan tentu adalah nilai yang harus kita bayar. Begitu pula ketika kita sedang marah.Ingat konsekuensi yang terjadi jika kita marah.Jika kemarahan tidak tepat sasaran bisa jadi sasaran sebut saja karyawan akan membenci , menggunjingkan diri kita dan yang lebih fatal lagi bersepakat/berniat menghancurkan sasaran.

Membangun Motivasi Internal

Dalam seminar motivasi kecerdasan emosi pertanyaan yang sering muncul adalah “bagaimana caranya supaya bisa terus bersemangat?”Bahkan ada sebagian orang yang bisa bersemangat hanya ketika ikut seminar.Dalam sebuah seminar memang disuntikkan unsur – unsur yang membuat para peserta bersemangat, tidak mudah menyerah, dan mengupas tuntas penyelesaian masalahpesertanya.Tidak heran ketika selesai seminar para peserta kelihatan memiliki semangat dan energi berlebih untuk menghadapi kehidupan esok hari.Namun hal ini hanya bertahan beberapa hari saja.Ketika memasuki kehidupan dan melakukan aktifitas sehari-hari mulai timbul rasa bosan dan semangat yang kemarin menggebu-gebu lesap/hilang bagaikan asap dibawa angin. Yang tinggal hanya sisa-sisa tenaga yang dipaksakan untuk menjalani hari-hari selanjutnya.Kesilapan yang terjadi dalam hal ini adalah salah memanage semangat.Semestinya semangat yang ada dalam diri kita tidak harus bergantung pada lingkungan, keadaan atau situasi tertentu.Banyak orang bersemangat ketika pergi berlibur tapi tidak semangat ketika bekerja.Padahal dana untuk berlibur didapat dari bekerja.

Coba kita perhatikkan orang-orang disekeliling kita.Carilah orang yang memiliki semangat internal atau semangat yang timbul dari diri sendiri tanpa disebabkan oleh apapun dan siapapun.Orang-orang seperti ini memiliki semangat yang sesuai standart.Tidak bergantung pada orang lain, situasi di sekitar mereka. Bahkan, sekalipun orang – orang disekitar mereka justru melemahkan dan meremehkan, mereka masih mampu menjaga api motivasi mereka. Orang seperti ini biasanya fokus dan tenang menghadapi situasi apapun.Mereka tidak mudah menyerah, ulet dan berprinsip.Jika sukses mereka tidak akan mudah silau dengan kesuksesannya, sebaliknya mereka akan berperan dalam menyukseskan orang lain. Dan jika mereka menjumpai hambatan dia nya tidak akan larut dengan mengeluh, menunjukan bukti bahwa pandainya seseorang mengelola emosi nya.

Seharusnya kita semua mampu membangkitkan motivasi dan semangat untuk diri kita sendiri kapanpun dan dalam keadaan apapun.Ada beberapa langkah sederhana yang bisa anda praktekan:

  1. Miliki tujuan penting emosional

Temukanlah tujuan penting yang positif dari emosi yang terkelola dengan baik, maka kita akan menemukan bahan bakar/oksigen baru untuk motivasi yang tidak pernah habis.

  1. Jadikan hambatan sebagai hal yang temporer

Setiap kali kita menemukan hambatan dan masalah, ingatlah bahwa hal itu hanya bersifat sementara.Selalu ada jalan dalam setiap masalah, tinggal bagaimana kita berusaha.Kebanyakan orang, kehilangan motivasi saat masalah datang karena mereka berfikir semuanya telah berakhir dan tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk keluar dari masalah tersebut.Ubahlah pola pikir tentang hal tersebut, jika kita percaya bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya maka api motivasi kita akan tetap menyala dan terus berkobar untuk mengelola emosi dengan baik.

  1. Rayakan keberhasilan, hargai hal positif, bangkit dari kekalahan

Setiap kali kita berhasil melakukan sesuatu yang baik, sekecil apapun itu, jadikanlah bukti bahwa kita mampu mencapainya.Fokuslah pada hal-hal yang bisa kita lakukan.Mintalah bantuan teman untuk mengoreksi dan memberikan masukan untuk hal hal yang tak mampu kita lakukan sendiri.Semakin sering kita menemukan bukti bahwa kita bisa, maka semakin bertambah pula semangat dan motivasi kita.

Segala sesuatu yang baik semuanya BISA, bila kita mau memulainya (ems’60)